Banyak orang melakukan perkawinan dengan alasan yag keliru, seperti (1). mengatasi rasa kesepian, (2). lari dari keadaan rumah tangga orang tuanya yang kurang bahagia atau lari dari lingkungan keluarganya, (3). menganggap bahwa setiap orang harus menikah cepat-cepat, kalau tidak menikah artinya kurang ”laku” atau kurang menarik, (4). karena pecundang saja yang tidak dapat jodoh pada umur 27 tahun, (5). karena membutuhkan orang lain untuk mengatur dirinya atau untuk diatur oleh yang dia, (6). terlanjur hamil dan dijodohkan paksa, (7). terlanjur jatuh cinta.
Apapun alasannya, hampir semua orang mengatakan bahwa mereka melakukan pernikahan karena sama-sama cinta.
Ada banyak sekali tingkatan cinta, dan yang jelas tidak semua orang mempunyai tingkat kematangan yang cukup untuk menikah hanya karena cinta, kenapa demikian karena orang sering memimpikan sebuah gambaran ideal tentang pasangannya, dan kemudian tanpa disadari dia telah jatuh cinta pada gambaran idealnya itu sendiri, bukan pada sifat kemanusiaannya, dan ketika sesudah menikah ternyata pasangannya tidak sesuai atau sedikir saja berbeda dengan gambaran idealnya, kekecewaan mulai timbul.
Bila hal itu terjadi, maka perkawinan mulai diselimuti oleh topeng kebahagiaan, kenapa disebut topeng, karena orang lain tidak pernah tahu bahwa jauh di lubuk hati, ada kekecewaan dan penyesalan kenapa dahulu salah memilih pasangan, ada rasa ketakutan bahwa masa depan tidak akan bahagia dengan pasangan yang dianggap tidak ideal, ada rahasia probadi yang perlu disembunyikan di belakang topeng kebahagiaan.
Pertanyaannya kemudian adalah sampai kapan hal itu bisa dilakukan, 1 tahun, 5 tahun, 7 tahun atau seumur hidup perkawinan ....?, karena bagaimanapun juga tingkat kesadaran manusia terus berkembang, tingkat spiritualnya berkembang, kesadaran perlunya mutu dan kualitas kehidupan yang semakin lebih baik akan memunculkan konflik ”apakah harus selamanya menjadi orang munafik...?”, lari dari kenyataan dan lari dari persoalan...?
Kadang saya salut dengan orang yang berani mengambil resiko berpisah karena ketidakcocokan perkawainan mereka, perlu pertimbangan panjang, pahit dan berat untuk mengambil keputusan untuk berpisah, tentunya kalau dilakukan dengan kaidah yang benar alasan yang benar dan bukan mengada-ada yang diada-adakan, perpisahaan merupakan sebuah awal perjalanan sendiri yang berat.
Bagaimanapun juga, menjadi orang yang berpasangan tidaklah buruk, yang buruk adalah bila kita melakukannya dengan alasan yang tidak masuk akal seperti target umur 27 tahun harus sudah menikah misalnya, siapapun pasangannya kalau perlu terima saja pilihan jodoh yang disodorkan, yang penting menikah umur 27 tahun, tanpa eksplorasi, tanpa pemahaman satu sama lain, tanpa tau pribadi masing-masing, wah ..... tidakkah kita pertaruhkan sisa umur kita dalam sebuah perjudian namanya...?, ya kalau tidak salah pilih, kalau salah pilih maka kalau kita asumsikan meninggal umur 60 tahun, maka 33 tahun kedepan kemudian kita akan hidup dalam kemunafikan dan kesengsaraan, atau dapat dikatakan bahwa setengah umur kita, kita pakai untuk memanage konflik yang tidak berguna dan bermanfaat, apa itu tujuan hidup kita sebenarnya ................... Auzubilahminzalik.
19 February, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment