“sejak saat dia tidak tersentuh, hati ini perlahan mengering”
Pernah berpisah ….?, dengan sahabat, dengan keluarga, dengan orang-orang yang kita sayangii …?, saya ingat pertama kali berpisah, pertama kali pergi sendiri meninggalkan keluarga sewaktu kelas 2 sekolah dasar, pergi ke Malang ke kota kelahiran saya dari Jakarta dengan kereta api, merupakan pengalaman pertama yang berkesan karena saat itu jangan dibayangkan kereta api yang bagus, KA “Gaya Baru” , meskipun namanya gaya baru, akan tetapi fasilitas dan kondisinya sama sekali jauh dari “Gaya Baru”, penumpang tidur betumpuk-tumpuk di lantai koridor sudah menjadi pemandangan biasa pada saat itu, bahkan WC-pun disulap menjadi tempat duduk penumpang yang tidak kebagian karcis.
Sepanjang perjalanan, pedagang asongan selalu ramai hilir mudik walau susah berjalan karena terhalang oleh penumpang yang duduk di lantai koridor, macam-macam yang mereka tawarkan, mulai dari es sampai nasi pecel, bersahaja sekaligus agak kotor.
Favorit saya duduk dekat cendela, bahkan sampai sekarang 30 tahun kemudian saya masih suka sekali duduk dekat cendela kalau bepergian, terasing dari hiruk-pikuk aktivitas sekitar dan terpenting bisa melamun memandangi pemandangan sepanjang perjalanan sibuk bermain dengan pikiran sendiri.
Banyak hal saya renungi pada saat itu, dari kacamata anak SD sebuah perpisahan tidak banyak membekas di hati, pun juga ketika ayah meninggal karena sebuah kecelakaan mobil di daerah pantura, saya masih biasa-biasa saja, tapi sekarang 30 tahun kemudian ketegaran saya untuk menerima sebuah perpisahan semakin menipis, semakin rentan, perpisahan cenderung dapat menjadi sebuah serial kesedihan yang berkepanjangan.
Kalau ditanya apakah saya lebih romantis saat ini..?, entah tapi beberapa kali kehilangan orang-orang yang disayangi bukan membuat saya semakin kuat malah menggrogoti daya tahan saya untuk tidak mentolelir sedikit kehilangan lagi.
Walau telah belajar untuk - kalau saya pinjam istilah teman saya ”berdamai dengan diri sendiri”-menyesuaikan diri dengan kesedihan yang timbul dan pura-pura percaya bahwa penyesuaian adalah suatu proses spiritual ”sudah diatur dari sananya”, seraya berusaha untuk cepat-cepat memperpendek masa sakit, tetap saja ada kegetiran yang mendalam pada saat-saat tertentu, kerapuhan psikis, degradasi spiritual, resistensi terhadap semua hal yang berhubungan dengan masa depan, lebih tepatnya merasa ”masa bodoh dan ketidak pedulian pada hari esok karena beranggapan hari esok sudah tidak sama lagi seperti kemarin” menjadikan hal-hal itu pengalaman hidup yang sangat berharga dan menyedihkan yang pada akhirnya memunculkan kesadaran bahwa .. kenapa harus lari .. karena semakin kencang melarikan diri dari persoalan semakin kencang pula persoalan-persoalan itu mengejar, bahkan sampai suatu saat kita tidak tau kearah mana lagi kita harus melarikan diri, , ... no place to hide!
Bagi banyak orang dan terutama bagi saya sendiri citra diri dapat menurun drastis bila terjadi putus hubungan karena bagaimanapun juga banyak hal telah diinvestasikan, waktu, perasaan, angan-angan dan rencana, telah begitu banyak yang dipertaruhkan begitu banyak hal dicreate dan di manage agar terjalinnya hubungan yang idealnya harus baik, sehingga kalau hubungan itu harus berakhir, seluruh usaha, seluruh harga diri jadi hancur, menjadi sebuah kesia-siaan, lalu ....yang tertinggal adalah kesedihan yang mendalam, kalau belum tau apa itu kesedihan mendalam yaitu gabungan antara rasa sedih dan putus asa, perasaan tidak dibutuhkan lagi, ketakutan tidak dapat berkontribusi agar orang yang disayangi bahagia dan tentunya ditambah bonus sebuah perasaan kesepian yang justru sering timbul di dalam keramaian hiruk pikuk dan kesibukan orang sekitar saya.
Perasaan kesepian yang terberat adalah kesadaran bahwa banyak kebiasaan hidup harus diubah karena sekarang orang yang disayang tidak bersama lagi, tadinya jogging bareng, mungkin nanti harus mau sendiri, atau bahkan mungkin malah menjadi malas untuk memulai jogging karena setiap langkah akan membangkitkan kembali ingatan dengan orang yang dulu sering bersama, berangkat dan pulang kantor dulu barengan, mungkin sekarang harus sendiri dan menjadi hal yang membosankan tanpa percakapan, tanpa canda tawa, tanpa mampir di kios sate ”kambing muda”, tanpa pelukan manja, gigitan gemes pada pundak, lalu kesepian menjadi terasa menyakitkan.
Tapi kalau dicermati pada titik kelelahan batiniah yang sangat ekstrim ternyata kesepian mengatakan kepada kita bahwa harus ada yang dipelajari, bahwa kesepian yang begitu menyengsarakan ternyata memiliki daya penyembuh kalau mau menerima kesepian itu apa adanya, menerima kesepian dan kesendirian sebagai bagian dari diri kita bukan hal asing yang tiba-tiba datang, menyadari bahwa memang sekarang ini kita sendiri, orang yang sering bersama kita sudah pergi dan mungkin sekarang sedang senang-senang dengan ”orang baru” yang lain lagi, jadi mau apa .......?, begitulah kira-kira.
Kadang saya heran melihat mereka yang tidak terluka karena putus hubungan, saya pikir mungkin karena mereka sudah berpengalaman kehilangan, bisa disebabkan trauma masa kecil yag menyebabkan resistensi yang tinggi pada ”persoalan putus hubungan” yang secara sadar atau tidak mempengaruhi logikanya untuk memblok ”urat sedih-nya” agar tidak sedih bila kehilangan seseorang, atau mungkin justru sebuah kebahagiaan tersendiri bila melihat orang lain sedih karena putus hubungan, mungkin rasa sakitnya belum terasa, atau mungkin pintar mensugesti diri sendiri bahwa putus hubungan bukan suatu yang luar biasa, membohongi diri sendiri dan menjadi hiprokrit, mungkin saja semua alasan dan berbagai analisa tersebut dapat menjadi suatu kajian yang menarik, tetapi yang jelas orang yang tidak terluka pada saat putus hubungan pasti orang yang tidak menganggap penting hubungan itu, meremehkan perlunya komitmen pada sebuah hubungan, perlunya tanggung jawab, perlunya kesamaan tekad dan tujuan, even ......... tidak merasa penting untuk menghargai sebuah hubungan, mau lanjut atau tidak EGP....
Perpisahan memang menyedihkan, tapi kalau dianggap perlu, mau gimana lagi coba ...?
11-02-2007
16 February, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment