Diperlukan dua orang untuk saling mencintai, tetapi hanya diperlukan satu diantaranya untuk patah hati.
Dalam sebuah perjalanan ke Samarinda, saya bertandang ke rumah salah sorang sanak keluarga, walaupun bukan keturunan langsung, tetapi saya biasa menyebut mereka mami dan papi, mungkin memang dari budaya keluarga dulu lebih suka demikian sehingga merekapun membahasakan sebutan mereka ke saya demikian.
Mami, tahun ini berusia 73 tahun, berperawakan gemuk, sedangkan Papi, berperawakan kurus, berumur 76 tahun dan masih aktif bekerja paruh waktu untuk “memanfaatkan” pengetahuan perpajakan yang digelutinya waktu di Pertamina dulu dengan menjadi konsultan Pajak.
Setelah “upacara” sambutan dengan pelukan yang hangat dan saling bertanya kabar, maka kami-pun mulai bercengkerama, mami lebih banyak bercerita tentang bagaimana perkembangan sakit “asam uratnya”, sakit “asma” dan sakit “jantung”, yang sangat insight sekali adalah pada saat mami bercerita bagaimana pada tahun lalu pernah masuk rumah sakit karena dioperasi kista di rahimnya dan papi dengan sabar dan setia mendampingi selama perawatan, bahkan sampai memandikan sendiri istrinya karena tidak ingin “daerah-daerah” terlarang pasca operasi untuk disentuh perawat, demikian pula mami bercerita ketika papi harus dioperasi rahang dan mabok karena pengaruh anastesi selama 20 jam lebih, sampai-sampai membuat panik semua orang, terlihat bahwa mereka demikian asyik, demikian kompak, demikian “satu” menghadapi berbagai masalah, berbagai persoalan yag mereka hadapi.
Sedang asyik kami bercerita, papi nyeletuk “ Eh…. Kita bulan april ini mau merayakan ulang tahun emas perkawinan kita lho, nanti datang ke samarinda lagi ya…!”, tersentak kaget karena kata-kata papi tadi, tiba-tiba banyak sekali hal berkecamuk dalam hati saya, kalau mereka merayakan ulang tahun emas perkawainan berarti mereka telah menikah 50 tahun, wow ….. saya takjub bahwa bagaimana bisa dua orang manusia hidup secara bersama selama itu….?, dan masih tetap saling mendukung..?, masih tetap bersama dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, masih kompak dan tetap memegang teguh komitmen, 50 tahun bukan waktu yang sedikit, 50 tahun berjalan bergandengan bersama, kok bisa ya….?
Saya tidak habis pikir bagaimana mereka mengisi hari-hari mereka selama 50 tahun ini, yang sudah barang tentu tidak selalu bahagia, bagaimana mereka bisa mengatasi hambatan perkawinan, godaan-godaan di sepanjang perjalanan, ketidakjelasan tujuan, rasa jenuh, rasa bosan, rasa cemburu, rasa terabaikan, kekurangan ekonomi, kekurangan cinta, kekurangan perhatian, gangguan pihak ketiga, bahkan rasa sakit sepanjang perkawinan mereka, bagaimana mereka bisa tetap bergandengan bersama dalam satu tujuan dan melewati semua itu sampai saat ini 50 tahun kemudian …?
Apakah cinta yang membuat mereka demikian, cinta yang seperti apa…?, kasih sayang yang bagaimana yang membuat mereka tetap bertahan…?, hubungan yang seperti apa yang mereka kembangkan sehingga bisa tetap “satu” dalam suka dan duka…?, saling respek, saling terbuka, tidak ada tipudaya, tidak ada keragu-raguan…?, tidak ada saling menyakiti dan tidak ada kebohongan..?
Ada orang bilang bahwa cinta adalah suatu daya yang lebih kuat daripada apapun, cinta tidak kasatmata tetapi cukup kuat untuk mengubah kita dalam sesaat dan menawarkan kebahagiaan yang lebih besar daripada yang bisa ditawarkan oleh harta benda, dengan cinta kebaikan, keburukan, kesulitan, kegembiraan, kebahagiaan, bahkan tragedi cinta itu sendiri akan terajut dalam kehidupan dan mewarnai kehidupan kita, mendewasakan dan menjadi tolok ukur seberapa baik kualitas hidup kita karena dalam kehidupan ini kita tidak bisa memilih hanya kebaikan saja tanpa keburukan atau sebaliknya.
Lalu kalau memang ada cinta seperti itu, dimana cinta seperti itu tumbuh…?, dimana cinta yang tawadhu yang dimiliki oleh papi dan mami…?
Entahlah, yang jelas belum saya temukan sampai saat ini, mungkin saya butuh 50 tahun untuk menyadarinya bahwa ada cinta seperti itu………………………. Walahuallam bi sahab.
18/01/2007
16 January, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment