08 January, 2007

"what lier are for"

Dalam kehidupan ini kita bergaul dalam koridor saling menilai, saling memperhatikan dan saling mencatat kejadian demi kejadian yang kita alami, mencatat di dalam hati, di dalam ingatan kita dan catatan itulah yang akhirnya menjadi sebuah image yang melekat pada kepribadian kita, catatan yang mengambarkan karakter kita dimata orang lain, sifat kita dimata orang lain dan tentunya “trade mark” kita.
Karakter seseorang bisa saja dibuat menjadi “orang baik” , “soleh”, “lugu” atau orang yang “innocent” dengan cara selalu menjaga untuk berbuat sesuai dengan image yang diinginkan, tapi yang begitu bukanlah asli karakter dasar seeorang, karena berapa lama sih seseorang bisa bertahan berpura-pura menjadi baik untuk kemudian “terbongkar” karakter dasarnya?, 1 bulan, 2 bulan, 6 bulan..?, paling lama mungkin 6 bulan.
Ada sebuah karakter dasar yang paling cepat terbongkar walau ditutupi seperti apapun, yaitu karakter para pembohong, oleh karena itu pada jaman Rasul dahulu, diriwayatkan ada seorang pembunuh, penzina dan penjahat besar ingin masuk islam, dia bertanya pada rasulallah, ya rasul perbuatan apa yang tidak boleh aku lakukan, maka kata rasul “berjanjilah setelah masuk islam janganlah pernah berbohong”, sang penjahat kontan mengiyakan janji tersebut karena berbohong adalah kebiasaan terjelek yang paling ringan untuk tidak dikerjakannya, penjahat tersebut lalu berjanji kepada rasulallah untuk tidak lagi berbohong, sedangkan kebiasaan jelek lainya seperti berzina, merampok dan membunuh tetap dilakukannya.
Hari berjalan demi hari, sang penjahat tetap seperti biasa melakukan aktifitas jeleknya akan tetapi berbeda dengan dahulu karena setelah masuk islam setiap habis sholat magrib di masjid sang penjahat selalu ditanya rasulallah “Hai fulan apa yang sudah kamu kerjakan hari ini…?”, maka dijawab oleh penjahat itu (karena dia sudah berjanji tidak berbohong) “ aku berzina ya nabiallah”, besoknya “ aku membunuh dan merampok ya rasulallah” dan demikian setiap ditanya dia selalu menjawab terus terang semua perbuatan jeleknya.
Lambat laun perbuatan jelek yang diakuinya pada sholat magrib semakin berkurang dan hingga suatu saat tidak lagi diceritakan perbuatan jeleknya hari itu, melihat hal tersebut seorang sahabat bertanya padanya “hi fulan kenapa kau berhenti melakukan perbuatan jelek mu hari ini.?”, maka jawab sang penjahat “ aku malu mengakui perbuatan jelek-ku tiap hari, sedangkan aku tidak boleh berbohong lagi, maka aku tidak akan lagi berbuat jelek”
Kesimpulan dari cerita tersebut jelas bahwa orang yang mengerti arti malu sudah tentu tidak akan berbohong, hanya karakter pembohong yang tidak mempunyai rasa malu dan respek kepada orang lain, karakter pembohong selalu beranggapan bahwa orang yang dibohonginya lebih bodoh dari dia, dan tidak akan pernah akan tau kalau dibohongi, karakter pembohong selalu beranggapan bahwa apa yang dikatakan selalu benar walau itu sebuah kebohongan, yang pada akhirnya dia sendiri tidak bisa membedakan kondisi yang diciptakan oleh kebohongannya itu benar-benar nyata atau cuma sekedar imaginasinya saja.
Setiap orang pasti pernah berbohong dalam kadarnya masing-masing, definisi berbohong adalah memberikan informasi yang tidak sesuai dengan kondisi saat itu demi kepentingan dan keuntungan diri sendiri, memang disini kesannya jadi ada sedikit sifat egoisnya, akan tetapi secara umum ada 2 tipe kebohongan, yang pertama kebohongan yang dilakukan secara spontan yang mungkin dosanya lebih ringan, biasanya dilakukan untuk membela diri atau melindungi orang lain, ini mungkin bisa dibilang bohong yang “sedikit” positif, dan tipe kedua yaitu kebohongan yang direncanakan, yang ini adalah kejahatan berat karena hanya orang yang mempunyai karakter dasar pembohong-lah yang dapat dengan cermat membuat suatu skenario kebohongan.
Kenapa Rasulallah dan khususnya agama Islam melarang melakukan kebohongan, pertama karena dengan berbohong seseorang menghancurkan sendiri image tentang kepribadiannya, menghancurkan karakter yang selama ini menjadi ‘trademark-nya” di mata orang lain, karena bila seseorang ketahuan melakukan kebohongan, maka otomatis bayangan dan gambaran kepribadian yang telah terbentuk di benak seseorang mengenai orang itu akan hancur, bagaimanapun bagusnya, bagaimana pun indahnya gambaran semula akan tergantikan dengan keragu-raguan, kehancuran komitmen dan akan timbul image bahwa “mungkin semua yang dikerjakan orang ini selama ini adalah sebuah skenario kebohongan”, orang yang mempunyai gambaran tentang dirinya yang tadinya mungkin “baik”, “soleh”, “indah dan innocent” akan bertanya-tanya kembali benar tidaknya gambaran yang selama ini dibentuknya.
Alasan kedua adalah berbohong memutuskan tali silahturahmi hubungan habluminanas, dimana seseorang yang berbohong sengaja atau tidak telah mengabaikan integritas orang lain, respek dan kehormatan orang lain diabaikan, keteguhan komitmen dan penghargaan kepada orang lain menjadi suatu yang tidak lagi mempunyai arti bagi para pembohong, karena dianggap bahwa orang yang dibohongi derajatnya lebih rendah, lebih bodoh, lebih terbelakang.
Alasan ketiga adalah berbohong merupakan sebuah penyakit, apabila seseorang telah satu kali berbohong, maka dia akan berbohong untuk kedua kalinya untuk menutupi kebohongan yang pertama, demikian seterusnya seperti efek domino sampai lambat laun kebohongan menjadi sebuah kebutuhan dan kebiasaan yang tidak disadarinya.
Alasan Keempat, dengan berbohong, maka seseorang telah mengaburkan realita dengan kenyataan, apabila kebohongan dilakukan secara intens, maka akan terbentuk jiwa pembohong yang selalu beranggapan kebohongannya-lah yang nyata dan bukan kondisi eksisting, kebiasaan menutupi kebohongan yang satu dengan kebohongan yang lain merubah sudut pandang jiwa terhadap suatu permasalahan, yang pada akhirnya selalu memberikan solusi yang tidak relevan dan tidak riil dalam kehidupan dan penuh dengan rekayasa kebohongan.
Dalam ilmu tasawuf, apabila kita melakukan kebohongan, maka akan terbentuk satu noktah hitam di hati kita yang akan menutupi qalbu dari cahaya ilahi, apabila sering berbohong, maka qalbu akan tertutup oleh noktah hitam dan auzubillahminzalik untuk membersihkannya diperlukan 70.000 tahun neraka.

No comments: