16 January, 2007

“Sebuah Keputusan”

“Jika kamu telah berketetapan hati – mengambil keputusan, maka bertawakalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-NYA – QS Ali Imran [3]:159”

Pernahkah Anda ingat kapan terakhir kali dihadapkan pada pilihan yang tidak diinginkan..?, kapan terakhir kali kita dipaksa mengambil sebuah keputusan yang tidak kita sukai..?, dan saat ini setelah sekian lama keputusan itu kita ambil, kita masih merasakan sedikit “sakit” dan sedikit “penyesalan” dalam hati kita…?

Seorang bijak pernah berkata “ Apabila kita menggunakan cara yang tepat dalam mengambil keputusan, maka insyaallah keputusan itu akan membebaskan kita dari persoalan hidup” , nah kalau saat ini setelah sekian lama keputusan itu kita ambil dan masih ada sedikit rasa sesak di hati, berarti ada yang salah tentunya pada saat kita mengambil keputusan itu, karena jika merujuk pada kata-kata bijak di atas, maka keputusan yang kita ambil harusnya membebaskan kita dari masalah yang ada baik dahulu saat keputusan itu diambil maupun saat sekarang setelah keputusan itu dijalankan.

Sebuah keputusan wajarnya dipilih berdasarkan pertimbangan yang matang dari berbagai aspek, aspek logika dan aspek emosional, keputusan diambil dengan mempertimbangkan perasaan hati dan kewajaran logika, yang sudah barang tentu mempunyai dimensi parameter yang berbeda.

Pengambilan keputusan berdasarkan Aspek logika mungkin lebih simpel, dapat dilakukan seperti sebuah perkalian, satu kali satu sama dengan dua, take it or leave it, begitu kira-kira, karena kalau tidak untung disini, maka pasti rugi disana atau untung sedikit disini rugi sedikit disana, jadi dengan berhitung persoalan dapat dipecahkan lebih sederhana, dapat diusahakan untuk selalu win-win.

Akan tetapi apabila keputusan sudah menyangkut masalah hati maka seluruh dalil, seluruh metode, mulai SWOT, DSS, BCG dan seabreg metode lainnya tidak lagi dapat digunakan tuntas dalam win-win solution, selalu saja, terlepas besar kecil kadar yang dirasakan, kaidahnya akan win-lose atau bahkan lose-lose.

Kesalahan mendasar yang seringkali dilakukan banyak orang dalam mengambil keputusan adalah keinginan untuk segera keluar dari masalah yang membelitnya tanpa mempertimbangkan berbagai resiko yang bakal terjadi, hal itu menjadikan sikap tergesa-gesa ini merupakan kegagalan pertama dalam proses pengambilan keputusan, yang kemudian akan disusul dengan kegagalan lain di dalam langkah berikutnya dan sudah dipastikan ujungnya adalah kepahitan dan kegetiran hati, penyesalan dan keputusasaan, trauma dan rasa sakit hati akibat mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan kita.
Semakin kita sesali bahwa keputusan yang kita ambil ternyata tidak sesuai dengan keinginan kita, maka semakin sakit hati pula kita, semakin kita pikirkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi apabila keputusan yang diabil sesuai dengan yang kita inginkan, maka semakin besar pula putus asa dan penyesalan yang kita dapatkan, yang pada akhirnya semakin besar pula ketidak nyamanan, semakin dalam torehan luka di dalam hati dan semakin dalam pula penderitaan dalam hidup kita karena berbagai angan-angan yang tidak tercapai.

Hidup ini merupakan rangkaian persoalan, sepanjang tarikan nafas kita selalu dibarengi dengan masalah dan resiko, tetapi justru karena itulah kualitas hidup seseorang dinilai, yaitu dari seberapa kuat kegetiran dan kepahitan dalam hidupnya dapat diatasi, seberapa kuat penyesalan terhadap kegagalan dan ketidak mampuan mengambil keputusan yang terbaik dapat diselesaikannya, dan terlebih dari semua itu, seberapa ridho dia terhadap keputusan yang diberikan ALLAH pada perjalanan hidupnya.

Dalam mengambil sebuah keputusan yang pelik, Islam mengajarkan kita untuk bertawadu kepada Allah dengan melakukan sholat Istikhorah yang diyakini banyak pihak mampu memberikan solusi terbaik dimasa kini dan mendatang terhadap permasalahan yang kita hadapi.

Secara mendasar, pada prinsipnya sholat ini merupakan self sugestion yang menyiapkan hati dan pikiran kita untuk ridho terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi, sholat ini mengajarkan kepada kita bahwa apapun yang kita perbuat, sejatinya pembuat keputusan bukanlah kita akan tetapi hanya ALLAH semata - sang sutradara yang memegang hidup dan mati kita, lalu apa hak kita untuk menentukan jalan cerita kehidupan sesuai keinginan kita ….?

Tawakal adalah kondisi menyerah kepada ALLAH semata, percaya bahwa apapun yang terjadi adalah karena kehendak ALLAH, dan tidak ada sebaik-baiknya pemilih selain ALLAH, tidak ada sutradara lain, tidak ada sesuatu yang lebih baik menentukan jalan cerita kehidupan ini selain ALLAH sehingga akan timbil sebuah kesadaran yang menjadi self healing dan merupakan cara tercepat mengatasai berbagai penyesalan, keputusasaan, kekecewaan, sakit hati akibat pengambilan keputusan yang tidak sesuai dengan keinginan.

Maka dari itu, setelah kita berusaha melakukan yang terbaik, menawarkan yang terbaik, memikirkan jalan yang terbaik, dan memberikan alternatif terbaik serta berusaha secara maksimal untuk mencapai keputusan yang terbaik, apabila pada akhirnya keputusan yang diambil terpaksa tetap saja tidak seusai dengan keinginan yang kita harapkan maka tak ada lagi yang dapat dilakukan selain menyerahkan semua persoalan kepada sang maha ‘decision maker’, sang sutradara kehidupan sesuai makna kata ‘inalilahi wa inailaihi rojioun” – dari Allah semua persoalan dan akan kembali kepada Allah semua masalah - insyaallah.

16/01/2007

No comments: