28 January, 2007

"King of Jungle"

“lebih baik jadi kepala kucing, dari pada buntut macan”


Demikian sebuah pepatah yang sudah lama sekali saya dengar yang akhir-akhir ini tiba-tiba mencuat kembali, sebuah pepatah kuno yang sampai saat ini masih saya pegang kebenarannya dan mungkin tetap menjadi ”guidance” bisnis saya.

Baru-baru ini saya baca berita bahwa TransCorp telah memecahkan rekord MURI dalam proses recruitment terbanyak, hampir mencapai 170 ribu perserta, wach... ck..ck..ck, betapa banyak orang di dunia ini membutuhkan pekerjaan dan betapa sedikit sekali peluang yang disediakan.

Yang tidak pernah saya mengerti adalah kenapa orang selalu mencari lowongan pekerjaan dan bukannya menciptakan pekerjaan bagi orang lain....?, kalau saja melamar pekerjaan dilakukan oleh lulusan sekolah dasar atau sekolah menengah masih bisa diterima logika terkait dengan kapabilitas mereka, tetapi justru 90% pelamar adalah lulusan strata satu alias sarjana...?, ternyata sarjana kita tidak pernah bisa menciptakan pekerjaan bagi orang lain, bahkan bagi dirinya sendiri.

Kata orang membuka usaha sendiri dan menjadi wirausaha suatu hal yang sulit, oleh karena itu mereka disebut wirausaha, wira adalah berani, usaha adalah berjuang sendiri, jadi memang sulit untuk menjadi “berani berjuang sendiri” begitu kesimpulannya, padahal.., kalau kita seorang sarjana, semua bekal sudah kita dapatkan, mulai dari mata kuliah kewiraan, kuliah manajemen strategis, manajemen pemasaran, dan seabreg ilmu lain yang seyogjanya bisa digunakan sebagai bekal untuk “berani”.

Pertanyaannya kenapa mereka tidak berani....?.

Satu hal yang pasti adalah tidak adanya kemampuan dan intuisi untuk melihat peluang di masyarakat yang dapat dimanfaatkan, tidak adanya mentor untuk memulai usaha dengan benar, tidak adanya infrastruktur yang memadai dan untuk pemula biasanya bingung mencari bidang usaha apa yang cocok, sehingga menimbulkan keragu-raguan dan kemalasan untuk mengeksplorasi kemampuan yang dimiliki, lebih mudah menjadi pekerja orang lain, di ”suruh-suruh” orang lain dan tidak perlu capek-capek berfikir ”apa yang mesti saya kerjakan hari ini”, jadi lebih mudah menyerahkan segala sesuatunya pada manajemen perusahaan besar dari pada harus buka warung nasi padang misalnya.

Jawaban dari pertanyaan kenapa mereka tidak berani adalah kemalasan kultural, karena sarjana-sarjana kita biasa hidup enak pada saat menjadi mahasiswa dulu, kuliah tidak perlu cari uang sendiri, tinggal di lingkungan yang serba tersedia, fasilitas cukup disediakan orang tua, sehingga begitu mereka lulus tidak terbiasa hidup untuk survive dan peka terhadap peluang.

Jadi pada saat mereka dihadapkan pada pilihan mau jadi kepala kucing atau jadi buntut macan, maka dengan gampang mereka akan memilih menjadi buntut macan, betul macan memang besar, tetapi apalah artinya menjadi buntut, sudah kemana-mana ikut kepala kadang juga kecipratan ”kotoran” – (maaf ya), tidak pernah terpikir lebih baik menjadi kepala kucing yang notabene kecil tetapi bisa menentukan sendiri kemana kaki melangkah, mengelola sendiri untuk apa waktu digunakan, jauh dari ”cipratan kotoran” dan tetap beribadah dengan memberikan peluang kerja untuk orang lain ......

Bicara soal ibadah berapa besar pahala yang diterima oleh pemberi kerja akibat mereka memperkerjakan orang lain, maka dapat dibayangkan bahwa pahala yang diterima seperti MLM, kalau saja seorang pegawai punya 2 anak, maka punya 5 orang pegawai sudah mendapat pahala beribadah untuk menghidupi 10 orang kepala, bila senyum saja sudah mendapatkan pahala, apalagi memberikan kehidupan yang layak kepada orang lain ..... wach priceless

Jadi sampai saat ini saya masih sependapat bahwa lebih baik jadi kepala kucing daripada jadi buntut macan,lebih baik jadi tarzan walau hidup dihutan yang sepi dan terpencil tetapi tetap sebagai raja hutan ketimbang eksekutif di TransCorp yang kesana-sini keren pakai dasi tapi sejatinya cuma ”orang suruhan” orang lain yang juga suruhan orang lainnya lagi.

28/01/2007

No comments: